Minggu, 18 April 2010

itulah kataku akhirnya..

Dulu, aku punya kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan oranglain. ketika melihat seseorang dengan kelebihan yang tidak kumiliki, aku akan bertanya-tanya, "Kenapa allah tidak ciptakan aku seperti dia?"

Aku nelangsa sekali ketika bersandingan dengan seorang teman yang banyak mengutarakan konsep-konsep. Soalnya, aku hanya jadi pendengar yang baik saja, tak punya ide dan pendapat. "Ah, senangnya jadi orang pinter kaya dia". Namun ketika aku sedikit bisa berpendapat, aku teringat bahwa Allah akan murka pada orang yang omdo (omong doang). Lalu aku berfikir, "Beruntung sekali orang yang tidak banyak omong. Ia terbebas dari beban pertanggungjawaban lisan".

Di waktu yang lain, ketika aku berhadapan dengan orang yang begitu cantik, aku bertasbih seraya berandai-andai "Subhanallah, beruntung banget dikasih wajah yang cantik, kalo aja aku kaya gitu", tapi aku ingat bahwa kecantikan tak selamanya memberikan kehidupan yang membahagiakan, bahkan bisa jadi kecantikan itu adalah ujian. ujian ketika kecantikan itu mendatangkan banyak kemudharatan bagi lawan jenis. Dan lebih lagi ketika kecantikan itu mendatangkan marabahaya. Ahhhh,, mungkin terlalu berlebihan,, itu hanya alasan untuk sedikit menyenangkan hati,. Itu semua tergantung dari pribadi masing-masing, bagaimana ia bias membawa diri. Karena kecantikan akan menjadi lebih berharga ketika dipersembahkan pada orang yang tepat, dan lebih berharga ketika bisa dibingkai sesuai dengan perintah-NYA.

Di waktu yang lain lagi, ketika aku bersama dengan orang yang begitu kaya. Aku sering membayangkan jika seberuntung dia, ingin ini, ingin itu, mudah untuk mendapatkannya. Tapi lagi-lagi Allah begitu baik, DIA mengingatkan aku bahwa harta atau kekayaan juga salah satu ujian. Beruntung dan bersyukurnya apabila setelah diberi kekayaan ia menjadi dermawan dan menggunakannya di jalan kebaikan, tapi bagaimana jika sebaliknya????????? Setelah diberi harta itu, malah terlena akannya, lupa bahwa didalamnya ada hak orang lain, lupa bahwa kekayaan itu Allah titipkan untuk berbagi dengan orang yang berhak menerimanya. Naudzubillah…
Begitupun seterusnya…..

Bahkan juga sempat membayangkan ingin menjadi doraemon… yang tak pernah sedih, tak pernah berhutang budi dengan sesame karena ia punya kantong ajaib. Ia bermanfaat dan menyenangkan. Tapi kemudian aku berfikir bahwa doraemon itu tak sesempurna manusia dan tak pernah MENGENAL TUHAN..

Menjadi diri sendiri, itulah kataku akhirnya. Tidak ada satupun manusia yang sempurna tanpa memiliki kekurangan. Kelebihan dan kekurangan itulah dua hal yang menyempurnakan manusia.

Allah pun menurunkan karakter yang berbeda-beda pada hamba-Nya. Ada yang pendiam, ada yang ramai, ada yang ceplas-ceplos. Ada yang cantik, ada yang biasa-biasa saja. Ada yang kaya, ada juga yang miskin. Ada yang pintar, ada juga yang kurang pintar. Ada yang murah senyum, ada juga yang susah tersenyum. Semuanya ada pada diri manusia. Lalu, mana yang paling baik?

Ini seperti membandingkan kacamata dengan sandal jepit. Secara dzahir, kacamata jelas lebih baik. Harganya mahal, tempatnya pun terhormat (di wajah). Sementara sandal jepit, harganya tak seberapa dan tempatnya pun dibawah (di kaki).

Mempertanyakan mana yang lebih baik, akan kembali mempertimbangkan fungsinya. Semahal apapun kacamata, barang tersebut tidak akan bermakna saat kita membutuhkan sandal jepit untuk berwudhu. Dengan begitu, kacamata tidak akan bias berbangga dengan kemewahannya, dan sandal jepit pun tidak akan merasa minder dengan kesederhanaannya.
Begitu pun dengan manusia. Kekurangan dan kelebihan manusia bukan menjadi alasan untuk rendah diri. Apalah arti mengungkit-ungkit kekurangan jika hanya membuat tidak percaya diri, merasa tidak berharga.

Saat aku menemukan kelebihan pada orang lain, aku pun bisa menemukan kelebihan lainnya pada diri sendiri. Sebaliknya, saat aku menemukan kekurangan pada diri orang lain, aku pun bisa menemukan kekuranagn lainnya pada diri sendiri.
Sekarang hanya bagaimana mengoptimalkan celah kekurangan dan kelebihan itu menjadi prestasi yang besar. Apa yang dianggap sebagai kekurangan dan kelebihan akan tetap bermanfaat jika pandai menempatkannya dengan pas.

Dan saat ini, aku akan berbanggga menjadi diri sendiri, berbangga menjadi seorang muslimah. Aku tidak ingin menjadi si A, si B atau bahkan doraemon. Inilah aku dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Alhamdulillah, kini hanya rasa syukur yang ada.. ^^

aku dan sebagian katanya di ambil dari buku Panggilan Rindu dari Langit..