Jumat, 03 Juni 2011

Calon Ibu Mertua..

Assalamu’alaikum Wr Wb..

Sebelum aku terus menggores kata dalam tulisan ini..
Ijinkanlah dengan segala kerendahan hatiku memperkenalkan diri terlebih dahulu
duhai calon IBU MERTUAKU..

Perkenalkanlah..
aku adalah wanita biasa dengan kepribadian yang teramat sangat biasa
dan akupun dari kalangan keluarga yang biasa saja…

Aku bukanlah Khadijah ra
istri tercinta Rasul, seorang wanita yang luar biasa dalam sejarah wanita islam dan wanita yang teramat mulia..
Aku bukanlah Aisyah ra
Seorang wanita yang utama dalam ketakwaannya..
Bukan pula Fatimah Az Zahra yang sangat utama dalam Ketabahannya..
Tidak pula seperti Zulaikha yang teramat sangat cantiknya..
Apalagi al Khansa yang sangat pandai mendidik mujahid – mujahid kecilnya..


Tapi..
Seperti yang sebelumnya aku utarakan, aku hanya wanita biasa ibu..
Dengan ketakwaan yang biasa..
Ketabahan yang tak seberapa..
Dan kecantikkankupun tak pantas di perhitungkan..

Namun ibu..
Aku adalah wanita akhir zaman
Yang punya cita – cita, menjadi wanita Sholehah…
Yang akan berusaha berbakti pada calon Suamiku..
dan juga padamu Calon Ibu mertuaku..
AKU BUKANLAH MUSUHMU yang hendak merebut perhatian dan kasih sayang anakmu..
Tapi aku akan menjadi rekanmu untuk memberikan kasih sayang pada anak tercintamu..
Dan kelak pada anak-anakku, calon cucu mu duhai ibu..

Engkau tak perlu khawatir ibu,…
Aku tak akan memonopoli perhatian anakmu,…
Tapi insya Allah aku akan menjadikannya lebih taat padamu..
Karena akan aku katakan padanya bahwa “engkau lah yang utama patut mendapat perhatiannya lalu aku”

Akupun tak akan marah jika engkau membantu mengatur rumah tangga kami..
Karena sebagai wanita yang baru menikah patutlah aku belajar darimu yang berlimbah pengalaman..
Dan engkau yang lebih tau keinginan anakmu..

Duhai, Calon ibu mertuaku..
Aku harap kita bisa menjadi rekan yang baik,
Karena pernikahan adalah membuka tabir rahasia antara aku dan anakmu…
Butuh banyak kesabaran untuk menghadapi banyaknya kejutan – kejutan dari perbedaan antara kami..

Aku berharap engkau dapat menjadi penasehat jika ku sedang dalam ke-alpaan…
Menjadi pendegar yang setia saat aku ingin berbagi….

Karena aku bukanlah siti hajar yang sabar dalam penderitaan….

Wassalamu’alaikum, Wr Wb..


Calon Menantumu..


Subhanallah, begitu indah suratnya..
akan ada kalanya, kelak , kita akan menjadi seorang istri, seorang menantu dan seorang ibu.. Insya Allah..
Dan kita akan memiliki orang tua yang baru..
Orang tua yang juga berhak mendapatkan kasih sayang dari kita..
Orang tua yang juga berhak kita jaga dan lindungi..
Orang tua yg juga wajib kita do’akan..
Otang tua yang akan membimbing kita dengan kesabaran ketika kita bersedih..
Orang tua yang akan kita rawat ketika ia terbaring sakit...
Orang tua yang akan kita bagi kebahagiaan ketika kita senang...
Orang tua yang juga akan kita cium tangannya dan selalu kita doakan di setiap shalat kita seperti orang tua kita sendiri...
Mungkin akan banyak hal yang terjadi nanti..
Proses pengenalan, saling mengasihi, saling membantu, hingga perbedaan pendapat..
Ketika seorang ibu, merasa cemas seorang anak laki - laki yang begitu disayanginya..
yang ia rawat sejak kecil dengan penuh perjuangan, peluh, canda, tawa dan kasih sayang...
Memohon izin untuk menyempurnakan separuh agamanya...
Yang mungkin kelak akan menghampiri istrinya untuk berbagi suka maupun duka, bukan lagi kepadanya..
Tentu perasaan takut kehilangan itu akan hadir dalam hatinya..
Tapi sebait kalimat yang ingin aku ucapkan untuk calon mertuaku kelak...

Jangan khawatir ibunda,ananda takkan pernah mengambilnya dari dekapanmu, bahkan ananda berharap bisa menjadi seorang anak yang dapat berbakti kepada ibunda kelak seperti kepada ibunda ananda sendiri, dan izinkanlah saat waktu itu tiba2, ananda dapat menjadi sahabat ibunda dalam membahagiakan laki - laki yang sama-sama kita cintai...

Jagalah Ia Ya Rabb..
Izinkanlah Hamba menjadi menantu yang shalehah dapat membuat Beliau Tersenyum kelak..

Kamis, 02 Juni 2011

renungan..

aku coba mengingat-ingat kembali beberapa kejadian akhir-akhir ini..
ada banyak sekali yang membekas..
aku terus menelusuri peristiwa demi peristiwa yang telah aku lewati..
terus menelisik dan dengan teliti coba memasuki masa-masa itu, coba merenungkan semuanya..
apa yang sebenarnya sampai membuat aku seperti ini..
terlalu banyak episode-episode bahagia yang aku lalui, terlalu banyak juga penggalan kegalauan yang menaungi hati..
aku terus dan terus mengusik gelombang jiwa yang melanda hati..

akhir-akhir ini harus aku akui imanku terkikis sedikit demi sedikit, serentetan ibadah yang aku lakukan juga sepertinya hanya rutinitas spiritual tanpa makna..
nurani ku sepertinya kurang peka untuk mengambil hikmah dari setiap kejadian, akibatnya serentetan kejadian itu hanya terlalui sia-sia..
bahkan aku seperti tidak mengenal diriku sendiri..
aku butuh semangat, aku butuh bimbingan, aku butuh kekuatan dan aku butuh penguat..

merenung, merenung, merenung..
setiap malam selalu berkutik dengan aktivitas itu, coba menemukan apa yang sebenarnya salah dari dalam diri ini..
perlahan aku mulai mencari mengapa aku begitu merasa hampa..
tidak semudah itu tapi untuk menemukan jawabannya, berlarut-larut aku menjalaninya..

HINGGA..
saat ini aku sadar, aku tau jawabannya,
aku menyadari semua ini setelah aku seperti terjatuh dari atas langit ketujuh, terhempas begitu saja, SAKIT rasanya..

dan JAWABANnya adalah karena AKU JAUH DARI-NYA..

ya kawan, sangat amat terasa katika hati jauh dari-Nya, yang ada hanyalah harapan-harapan kosong, yang ada hanya serentetan aktivitas tanpa makna dan tanpa berkah, yang ada hanya semua kepalsuan yg dibawa syaithan untuk membutakan mata dan hati kita..
sungguh aku sangat merasakan itu semua kemarin-kemarin..
hati terasa jauh dari ketentraman, gelisah, galau, bingung, bimbang..
ahhh amat terasa sia-sia sepertinya jika hidup ini dilanda rasa itu..

tapi saat ini, aku mencoba bangkit..
mencoba merangkak untuk kembali pada-Nya..
tuntun aku ya Rabb..
amiinn..